MESIN PENCARI

Google
 

Selasa, 10 November 2009

Motivasi Berprestasi

Apa itu Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation)?

Artikel Manajemen

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin sering anda saksikan orang-orang yang begitu aktif dan penuh vitalitas dalam bekerja. Bila anda seorang karyawan, akan anda temukan teman-teman (atau anda sendiri) yang berlainan intensitas dan cara kerjanya dalam menyelesaikan tugasnya. Ada yang amat giat untuk mencapai sukses, ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada pula yang nampaknya tidak ada gairah.

Suatu ketika dalam benak anda mungkin mencuat pertanyaan, apa sih gerangan yang melatar belakanginya? Pertanyaan ini telah lama digeluti oleh para ahli pendidikan, ekonomi, sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah dan disiplin ilmu yang erat kaitannya dengan manusia.

Jawaban mereka bermacam-macam tergantung dari mana mereka memandang.

Namun demikian, kendati masih tidak luput dari kritik seperti dari Hagen dan Rogers Everett ada suatu jawaban yang dipandang representatif, yakni dari David McClelland. Guru besar psikologi dari Harvard University, Massachussett itu secara brillian mengupas kelemahan teori-teori para ahli antropologi, sosiologi, sejarah geografi, dan bahkan psikoanalisis Freud sendiri yang menurutnya tidak mampu menerangkan mengapa ada perbedaan intensitas kerja dan prestasi yang dicapai oleh manusia satu dengan manusia lain, oleh bangsa satu dengan bangsa lain.

Kritik Me Clelland itu terutama dialamatkan kepada ketakmampuan teori tersebut dalam menjelaskan perbedaan secara individual; antara si Ajat dengan si Dadi, si Rani dengan si Ijul.

Kemudian sebagai puncak penelitiannya selama lima tahun (Januari 1947 - Januari 1952), ia mengemukakan konsep Motif Berprestasi (Achievement Motive).

Dalam buku-bukunya secara bergantian menggunakan tera ini dengan kebutuhan berprestasi (need for Achievement disingkat n-Ach). Motif berprestasi inilah gerangan yang menjadi motor penggeraknya.

Untuk mengetahui hal itu Clelland menyusun alat. untuk skala motif.
Ilustrasi pada awal tulisan ini sedikit banyak telah memberikan sekedar gambaran mengenai apa itu motif berprestasi.Tetapi ada baiknya dikemukakan pengertian menurut McClelland.

la tidak secara konsisten menentukan istilah yang digunakan antara “Achievement motive” dan “need for Achievement”.

Mungkin karena keduanya mempunyai pengertian yang tidak jauh berbeda atau sama saja. Motif berprestasi ialah keinginan untuk berbuat sebaik mungkin tanpa banyak dipengaruhi oleh prestise dan pengaruh sosial, melainkan demi kepuasan pri-badinya.

Sementara n-Ach ia beri pengertian dorongan untuk meraih sukses gemilang, hasil yang sebaik-baiknya menurut “standard” of exellence” yang akan lebih nampak dalam suasana rivalitas-kompetitif.

“Standard kesempurnaan” itu lebih besar ditentukan atas dasar pertimbangan individu itu sendiri ketimbang standar menurut ukuran lingkungan sosial. Kendatipun dalam kenyataannya mungkin, bahkan pasti, merupakan hasil internalisasi diri, atau dibentuk oleh ukuran-ukuran sosial dengan siapa orang itu berinteraksi.

Dalam uraian di muka dapat dibedakan pegawai yang ingin berprestasi sebaik mungkin, yang cukup, dan yang malas-malasan. Mungkin ini dapat anda rasakan sendiri. Konsep McClelland beserta hasil-hasil penelitiannya memberikan optimisme pada pembaca-nya. la menemukan, bahwa se-seorang yang abilitasnya inferior tapi memiliki n-Ach yang tinggi, akan lebih baik prestasinya dibandingkan dengan mereka yang abilitasnya superior dengan n-Ach yang rendah.

Mungkin Anda tergoda untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk besar kecilnya atau tinggi-rendahnya motif berpres-tasi pada diri seseorang. Terbentuknya motif berprestasi amatlah kompleks, sekomplek perkembangan kepribadian manusia. Motif ini tidak lepas dari perkembangan kepribadian tersebut, dan tidak pernah berkembang dalam kondisi vakum. Seperti kita ketahui, betapa besarnya peranan kehidupan keluarga dalam perkembangan kepribadian individu. Hubungan orang tua-anak sedikit demi sedikit menampakan pola-pola kepribadian dan kemudian berkembang dengan segala karakteristiknya mencakup sikap, kebiasaan, cara berfikir, motif-motif, dan sebagainya.

Pada masa di mana seseorang telah meninggalkan masa kanak-kanak, motif itu dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih luas lagi. Orang tua tidak lagi di-anggap sumber nilai atau figure ideal (Freud), atau satu-satunya “significant person” (Sullivan), melainkan nilai-nilai sosial di luar keempat dinding rumah. Di rumah, motif berprestasi anak bisa dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga, pendidikan dan pekerjaan orang tua, hubungan dengan saudara-saudaranya, dan sebagainya.

Sementara di luar, “dibentuk lewat hubungan yang penuh tantangan dengan teman-teman sekerja rekan sekantor, hubungan dengan direktur, dan sebagainya. Tantangan mengandung konotasi persaingan, kondisi mana dianggap sebagai stimulan utama n—Ach. Disinilah Me Clelland (juga para ahli psikologi lain mendalami motif) bertolak dari teori “Seleksi Alam” dan “Lestasi bagi yang kuat”, dari Charles Darwin (1809 - 1882).

Boleh anda cek sendiri. Kalau merasa motif berprestasi anda di tempat kerja kecil, umpamanya, apa yang melatarbelakanginya? Ekonomi yang serba cukup, pimpinan yang kurang menghargai prestasi, atau lingkungan tempat anda bekerja? Sebaliknya dengan motif berprestasi, bekerja akan bertambah semangat. Beruntunglah Anda. Tapi periksa lagi dari mana itu sumbernya?

Secara sederhana besar kecilnya motif dapat dilihat dari upaya yang dilakukan dalam menggapai “standard of excellence”. Ini tentunya hanya geja-la saja yang banyak berguna untuk menduga n—Ach seseorang. Agar anda dapat mengecek intensitas motif berprestasi sendiri, ada baiknya secara terperinci dikemukakan ciri-cirinya seperti ditulis dalam jurnal-jurnal ilmiah sedari awal penelitian sampai laporan akhir dalam buku-buku McClelland.

Ciri-ciri tersebut dapat diidentifikasi dari segi kognisi, konasi, dan afeksi/emosi. Dari segi kognisi dapat dikemukakan sbb:

• menyelesaikan tugas dengan hasil sebaik mungkin;
• bekerja tidak atas dasar untung-untungan (gambling);
• berfikir dan berorientasi ke masa depan dengan berusaha mengantisipasi hasil kerjanya secara logik;
• lebih mementingkan prestasi ketimbang upah yang akan diterimanya;
• realistik menilai dirinya;
• tidak boros, konsumtif, melainkan produktif;
• menghargai hadiah yang diterimanya;
• cenderung berorientasi ke dalam (inner orientation) kendati cukup tanggap terhadap stimulasi lingkungan.

Dari segi konasi dapat dikemukakan al:
- bersemangat, bekerja keras dan penuh pitalitas;
• tidak gampang menyerah dan merasa bersalah kalau tidak berbuat sebaik mungkin;
• tidak cepat lupa diri kalau mendapat pujian atas prestasinya;
• dengan senang hati menerima kritik atas hasil kerjanya dan bersedia menjalankan petunjuk-petunjuk orang lain selama itu sesuai dengan gagasannya;
• lebih senang bekerja pada tugas-tugas yang sukar, cukup menantang untuk berkreasi, bukan yang monoton

Dari segi afeksi atau emosi:
• gembira secara wajar manakala memenangkan persaingan kerja dengan rekan-rekannya;
• selalu menjadikan pekerjaan-nya yang lalu sebagai umpan-balik bagi penentuan tindakan lanjutan;
• segan bekerja dalam suasana bersaing (dalam arti positif) dan berusaha meninggalkan rekan-rekannya jauh di belakang;
• merasa menyesal kalau hasil kerjanya jelek, apalagi kalau diperlukan orang lain;
• berprinsip, bahwa upah yang diterima hendaknya sepadan dengan kualitas dan prestasi kerjanya;
• memperhitungkan resiko yang sedang dengan hasil yang dapat diduga, ketimbang resiko besar waluapun hasilnya besar.

Sumber :
Tizzi Maharani. Majalah Manajer edisi Agustus 1986.

Rabu, 12 September 2007

A Brief History Of Dreams And Their Interpretation

The interpretation of dreams by dream experts may be almost as old as dreaming itself. We know that all humans, and many animals, dream every night, and humans have always been fascinated to learn what causes dreams and what they mean.

The interpretation of dreams dates back at least as far as 3000-4000 B.C. We know that because the interpretations of dreams were recorded in permanent form on clay tablets. It is thought that many primitive peoples were unable to initially distinguish between the real world and the dream world.

In many cases, these people looked upon the dream world as an extension of the physical world around them, and in many cases they saw the dream world as more powerful than the waking one.

Dream interpretation was such an important field to the ancient Greek and Roman world that dream interpreters often accompanied generals and other military leaders into battles. Dreams were taken extremely seriously, and the Greeks and Romans in particular often viewed dreams as messages sent by their gods.

Dreams also had a religious content in ancient Egypt, and priests their doubled as dream interpreters. Dreams were among the items recorded by the ancient Egyptians in the form of hieroglyphics.

Those whose dreams were especially vivid or significant were thought to be blessed and were given special status in these ancient societies. Likewise, people who were able to interpret dreams were thought to receive these gifts directly from the gods, and they enjoyed a special status in society as well.

There are over 700 mentions of dreams in the bible, and people in biblical times saw dreams as very significant. Dreams and their interpretations are mentioned in many of the most significant books of the bible and other holy scriptures.

In many cases, dreams were often seen as a form of prophecy. People often interpreted their dreams as omens or warnings, and adjusted their activities accordingly. Dreams were often thought of as omens from deities, as messages from spirits, or as messages from departed souls. In some cases, dreams were even seen as the work of demons, meant to confuse and trouble the dreamer.

Dreams were so important that they often dictated the actions of political and military leaders, affecting everything from the prosecution of a battle to the outcome of a political decision. Dreams were also thought to provide vital clues to healers, and they were used in the diagnosis and treatment of all manners of illness.

Dreaming was often looked upon by indigenous peoples as a way to commune directly with gods and spirits, and dreams are still used in this way by cultures around the world. Many people believed, and some still do, that during dream sleep the soul leaves the body and communes with the spirit world.

The Chinese were one culture who believed that the soul left the body each night during dream sleep. They believed that if the dreamer were suddenly awakened the soul may not be able to return to the body. That is why some Chinese are still leery about the use of alarm clocks. This is just one example of how ancient legends can linger into the modern world.

Some Mexican and Native American societies share this ancient view of the importance of dreams, and share the belief in a separate dimension that is visited during dream sleep. These people believed that their departed ancestors lived in their dreams, and that they were able to take forms like animals and plants.

Thus dreams were seen as a way for them to commune with their recent and ancient ancestors, and to gather wisdom and knowledge that would serve them in their waking lives. Dreams were also seen as ways to gather information about their purpose or mission in life.

The respect for dreams changed radically early in the 19th century, and dreams in that era were often dismissed as reactions to anxiety, outside noises or even bad food and indigestion.

During this period of time, dreams were thought to have no meaning at all, and interest in dream interpretation all but evaporated. This all changed, however, with the arrival of Sigmund Freud later in the 19th century. Sigmund Freud stunned the world of psychiatry by stressing the importance of dreams, and he revived the once dead art of dream interpretation.

Selasa, 14 Agustus 2007

Info Computer

In the August issue of Computer

Selasa, 07 Agustus 2007

It's Hopeless - Don't Bother!


1. Ask for help. There are lots of people around who can help if you just ask. Find a tutor or ask your teacher.

2. If the help isn't working, change it! It's OK to try a different way.

3. Try to remember if there was a particular incident related to math that was unpleasant. Sometimes a bad early experience can lead to a general feeling of anxiety about all math, which can lead to stronger feelings without realizing the cause. Sometimes just recalling and talking about the first incident can help you deal with the anxiety.

Test... Brain... Freeze... Panic

1. Remember your name. No, really - just think of something that you DO know is the first step in remembering all those lost formulas.

2. Unfreeze your mind by unfreezing your body. Give yourself a quick stretch (don't get up and do jumping jacks, OK?) and tell yourself you are OK. Take a deep breath and try to break the cycle of the panic.

3. Work around the panic by finding something on the test that you can do. Gain confidence and then go back and finish the rest of the problems. Keep going on the ones you can do, then go back and try the others. You might be surprised to find that you can now tackle them with ease.